Perkuat Peran Apotek dan Toko Obat, Dinkes PPKB Kebumen Gelar Bimtek Pengelolaan Obat di Fasyanfar
Perkuat Peran Apotek dan Toko Obat, Dinkes PPKB Kebumen Gelar Bimtek Pengelolaan Obat di Fasyanfar
DINKES PPKB KEBUMEN PERKUAT SDM KEFARMASIAN APOTEK DAN TOKO OBAT
Optimalisasi Pengelolaan Obat dan Gerakan Partisipasi Aktif SDM Kefarmasian dalam Pengendalian Resistensi Antibiotik
KEBUMEN – Pengelolaan obat yang baik tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan obat, tetapi juga menyangkut bagaimana obat dikelola, disimpan, disalurkan, digunakan, dan diberikan informasi secara tepat kepada masyarakat. Untuk memperkuat hal tersebut, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Kebumen menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) SDM Kefarmasian Apotek dan Toko Obat di Hotel Candisari Karanganyar, Kebumen. Selasa (11/08/2026)
Kegiatan tersebut mengangkat tema “Optimalisasi Pengelolaan Obat di Fasyanfar dan Gerakan Partisipasi Aktif SDM Kefarmasian dalam Pengendalian Resistensi Antibiotik.” Hadir membuka acara Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Moch Nasir.,S.H.,M.Eng dengan jumlah Peserta 180 Penanggung Jawab Apotek dan Toko Obat di Kabupaten Kebumen. Hadir Narasumber dari Balai Besar POM di Semarang Dwi Ernawati, S.Si, Apt dan PD IAI Jawa Tengah apt. Dhadhang Wahyu Kurniawan, M.Sc., Ph.D.
Bimtek ini menjadi momentum penting dalam meningkatkan kapasitas dan profesionalisme SDM kefarmasian yang berada di apotek maupun toko obat. Selain memperkuat pemahaman mengenai tata kelola obat, kegiatan juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif tenaga kefarmasian dalam menghadapi salah satu tantangan kesehatan global, yaitu resistensi antimikroba, khususnya resistensi antibiotik.
Tingkatkan Mutu Pengelolaan Obat
Apotek dan toko obat memiliki peran strategis sebagai salah satu fasilitas yang berhubungan langsung dengan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan obat. Oleh karena itu, pengelolaan obat harus dilakukan secara tepat dan sesuai dengan ketentuan agar masyarakat mendapatkan obat yang aman, bermutu, dan sesuai dengan kebutuhan.
Dalam pelaksanaan Bimtek, peserta mendapatkan penguatan mengenai berbagai aspek pengelolaan obat di fasilitas pelayanan kefarmasian. Pengelolaan tersebut mencakup proses perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pencatatan, pelaporan, hingga pengawasan terhadap obat yang tersedia.
Aspek penyimpanan juga menjadi perhatian karena kondisi penyimpanan yang tidak sesuai dapat memengaruhi mutu obat. Pengelolaan stok yang tertib juga diperlukan untuk mencegah terjadinya penumpukan obat, kekosongan obat, maupun keberadaan obat yang telah melewati masa kedaluwarsa.
Melalui peningkatan pemahaman tersebut, SDM kefarmasian diharapkan tidak hanya menjalankan kegiatan administratif, tetapi juga mampu memastikan seluruh proses pengelolaan obat berlangsung secara efektif, efisien, aman, dan bertanggung jawab.
Peningkatan kualitas pengelolaan obat pada akhirnya akan berkontribusi terhadap peningkatan mutu pelayanan kefarmasian dan perlindungan masyarakat sebagai penerima layanan.
Perkuat Peran SDM Kefarmasian dalam Pengendalian Resistensi Antibiotik
Selain membahas pengelolaan obat, isu resistensi antibiotik menjadi salah satu fokus utama dalam Bimtek. Resistensi antibiotik merupakan kondisi ketika bakteri menjadi kebal terhadap antibiotik yang sebelumnya efektif untuk mengatasi infeksi.Permasalahan tersebut dapat muncul atau semakin berat akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat, seperti penggunaan tanpa indikasi yang sesuai, penggunaan dengan dosis atau lama terapi yang tidak tepat, maupun penggunaan antibiotik secara tidak bertanggung jawab.
Kondisi ini menjadi tantangan serius karena infeksi yang seharusnya dapat ditangani dengan antibiotik menjadi lebih sulit diobati. Dampaknya dapat berupa meningkatnya risiko kegagalan terapi, komplikasi, lama perawatan, hingga meningkatnya biaya pelayanan kesehatan.Dalam konteks tersebut, SDM kefarmasian memiliki posisi yang sangat penting. Tenaga kefarmasian tidak hanya berperan dalam menyediakan obat, tetapi juga mempunyai tanggung jawab untuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat mengenai penggunaan obat.
Edukasi menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penggunaan antibiotik secara tidak tepat. Masyarakat perlu memahami bahwa antibiotik bukanlah obat untuk semua penyakit. Antibiotik terutama digunakan untuk menangani infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan penggunaannya harus dilakukan secara tepat sesuai dengan indikasi serta ketentuan yang berlaku. Karena itu, tenaga kefarmasian diharapkan dapat menjadi bagian dari gerakan bersama dalam meningkatkan literasi masyarakat tentang obat, terutama terkait penggunaan antibiotik yang bijak dan bertanggung jawab.
Bukan Sekadar Bimtek, tetapi Membangun Gerakan Bersama
Pelaksanaan Bimtek tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan peserta, tetapi juga membangun komitmen bersama agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam praktik pelayanan sehari-hari. SDM kefarmasian di apotek dan toko obat diharapkan mampu menerapkan prinsip pengelolaan obat yang baik serta aktif memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat.
Dengan demikian, upaya pengendalian resistensi antibiotik tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau fasilitas pelayanan kesehatan tertentu. Pengendalian resistensi antibiotik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan lainnya, pengelola fasilitas pelayanan kefarmasian, serta masyarakat. Gerakan tersebut perlu dibangun secara berkelanjutan melalui perubahan perilaku dalam penggunaan obat. Masyarakat perlu didorong untuk tidak membeli atau menggunakan antibiotik secara sembarangan dan tidak menggunakan sisa antibiotik dari pengobatan sebelumnya tanpa arahan tenaga kesehatan.
Di sisi lain, SDM kefarmasian perlu terus meningkatkan kompetensi agar dapat memberikan pelayanan dan informasi obat yang benar, mudah dipahami, serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Dinkes PPKB Kabupaten Kebumen mendorong agar seluruh apotek dan toko obat terus melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan pelayanan kefarmasian di masing-masing fasilitas. Evaluasi tersebut penting untuk mengidentifikasi berbagai kendala sekaligus mencari solusi yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan. Kegiatan Bimtek ini sekaligus menjadi bentuk komitmen Dinkes PPKB Kabupaten Kebumen dalam memperkuat pembinaan SDM kefarmasian serta mendorong terciptanya pelayanan kefarmasian yang aman, bermutu, profesional, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat.
Ke depan, sinergi dan kolaborasi antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kefarmasian, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan, serta masyarakat perlu terus diperkuat. Pengelolaan obat yang optimal dan penggunaan antibiotik yang bijak merupakan bagian penting dari upaya menjaga efektivitas pengobatan sekaligus melindungi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Melalui tema “Optimalisasi Pengelolaan Obat di Fasyanfar dan Gerakan Partisipasi Aktif SDM Kefarmasian dalam Pengendalian Resistensi Antibiotik”, Dinkes PPKB Kabupaten Kebumen menegaskan pentingnya menjadikan setiap SDM kefarmasian sebagai bagian dari solusi.
Bukan hanya memastikan obat tersedia, tetapi juga memastikan obat dikelola dengan benar, digunakan secara tepat, dan masyarakat mendapatkan informasi yang benar. Dengan langkah tersebut, pelayanan kefarmasian diharapkan semakin berkualitas dan mampu memberikan kontribusi nyata dalam mewujudkan masyarakat Kabupaten Kebumen yang sehat, terlindungi, dan semakin sadar akan pentingnya penggunaan obat secara rasional.
