Gerakan Santri Sadar TB Program Promosi Kesehatan Berbasis Pesantren dalam Pencegahan dan Deteksi Dini Tuberkulosis
Gerakan Santri Sadar TB Program Promosi Kesehatan Berbasis Pesantren dalam Pencegahan dan Deteksi Dini Tuberkulosis
Mahasiswa Program Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Asty Pratiwi,Amd.Keb,SKM, dr Mei Rosyidah, Kartini Amd.Keb,SKM, merancang program promosi kesehatan dengan tema "Gerakan Santri Sadar TB" untuk mencegah dan mengendalikan penularan penyakit Tuberkulosis di lingkungan pesantren khususnya di wilayah Kabupaten Kebumen. Dengan adanya program diharapkan dapat meningkatkan angka deteksi dini TB di pesantren dan dapat menurunkan angka kejadian TB dilingkungan pesantren.
GERAKAN SANTRI SADAR TB: PROGRAM PROMOSI KESEHATAN BERBASIS PESANTREN DALAM PENCEGAHAN DAN DETEKSI DINI TUBERKULOSIS
Abstrak
Lingkungan pondok pesantren merupakan kelompok masyarakat rentan terhadap penularan Tuberkulosis (TB) akibat kepadatan hunian, ventilasi yang kurang memadai, serta interaksi sosial yang intens. Pondok Pesantren Roudlotul ‘Ulum di Kabupaten Kebumen menghadapi permasalahan TB yang ditandai dengan ditemukannya santri bergejala TB dan keterbatasan kader kesehatan aktif. Kegiatan promosi kesehatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi santri dalam pencegahan serta deteksi dini TB melalui program “Gerakan Santri Sadar TB”. Metode yang digunakan meliputi community analysis, targeted assessment, edukasi kesehatan berbasis peer education, pembentukan kader santri, demonstrasi etika batuk, serta skrining gejala TB. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan santri, terbentuknya kader “Santri Peduli TB”, meningkatnya partisipasi skrining TB, serta tersusunnya SOP dan alur rujukan TB di lingkungan pesantren. Program ini efektif sebagai model promosi kesehatan berbasis pesantren yang mendukung pengendalian TB secara berkelanjutan.
Kata kunci: Promosi kesehatan, Tuberkulosis, Pesantren, Santri, Peer education
Pendahuluan
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menjadi salah satu penyakit menular dengan risiko penularan tinggi di lingkungan padat penghuni, termasuk pondok pesantren. Karakteristik kehidupan pesantren seperti tidur bersama, ventilasi kamar yang terbatas, serta aktivitas harian yang padat berpotensi mempercepat penularan TB apabila tidak disertai perilaku hidup bersih dan sehat.
Hasil analisis situasi di Pondok Pesantren Roudlotul ‘Ulum menunjukkan adanya santri dengan gejala TB, rendahnya kesadaran terhadap etika batuk, serta belum optimalnya peran kader kesehatan pesantren. Selain itu, budaya santri yang cenderung menganggap batuk lama sebagai kondisi biasa dan enggan melapor saat sakit turut menjadi hambatan dalam deteksi dini TB.
Promosi kesehatan berbasis pesantren dengan pendekatan pemberdayaan santri dan dukungan pimpinan pesantren menjadi strategi penting untuk meningkatkan kesadaran, mengubah perilaku, serta memperkuat sistem pencegahan TB di lingkungan pesantren.
Tujuan Kegiatan
Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi santri dalam pencegahan serta deteksi dini Tuberkulosis di lingkungan Pondok Pesantren Roudlotul ‘Ulum.
Tujuan Khusus
1. Meningkatkan pengetahuan santri tentang TB minimal pada 80% peserta.
2. Meningkatkan sikap positif santri terhadap deteksi dini TB.
3. Meningkatkan partisipasi santri dalam skrining TB.
4. Membentuk kader “Santri Peduli TB” sebagai agen promosi kesehatan.
5. Meningkatkan temuan suspek TB melalui skrining aktif.
Sasaran Kegiatan
1. Santri yang tinggal di asrama pondok pesantren
2. Ustadz/ustadzah dan pengurus pesantren
3. Kader kesehatan pesantren
Metode Promosi Kesehatan
Kegiatan promosi kesehatan dilaksanakan melalui beberapa pendekatan, yaitu:
1. Community Analysis dan Targeted Assessment
Identifikasi faktor risiko individu, lingkungan, dan sistem kesehatan pesantren terkait TB.
2. Edukasi Kesehatan
Penyuluhan TB dengan metode ceramah interaktif dan diskusi kelompok.
3. Peer Education
Edukasi oleh kader santri kepada teman sebaya mengenai TB, etika batuk, dan ventilasi kamar.
4. Demonstrasi dan Praktik Langsung
Demonstrasi etika batuk, penggunaan masker, dan pembukaan ventilasi kamar.
5. Kampanye Lingkungan Pesantren Sehat
Penyampaian pesan kesehatan melalui poster, yel-yel, dan nasihat kiai.
6. Skrining Gejala TB
Pemeriksaan gejala TB oleh petugas puskesmas dan rujukan kasus suspek.
Hasil Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan program “Gerakan Santri Sadar TB” berjalan dengan dukungan pimpinan pesantren, pengurus, dan petugas puskesmas. Santri menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti penyuluhan dan kegiatan peer education. Terbentuknya kader “Santri Peduli TB” memperkuat peran santri sebagai agen perubahan perilaku sehat.
Hasil skrining menunjukkan meningkatnya partisipasi santri dalam pemeriksaan TB serta bertambahnya temuan suspek TB yang selanjutnya dirujuk ke puskesmas. Selain itu, terjadi peningkatan kepatuhan terhadap etika batuk dan kebiasaan membuka ventilasi kamar.
Evaluasi Kegiatan
Evaluasi dilakukan melalui:
· Pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan santri
· Observasi langsung perilaku etika batuk dan kebersihan kamar
· Cakupan skrining TB dan jumlah temuan suspek
· Monitoring kader santri dalam kegiatan promosi kesehatan
Kesimpulan
Program promosi kesehatan “Gerakan Santri Sadar TB” efektif meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi santri dalam pencegahan serta deteksi dini TB. Pendekatan peer education dan dukungan pimpinan pesantren menjadi kunci keberhasilan kegiatan. Program ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dan direplikasi di pesantren lain sebagai bagian dari strategi pengendalian TB berbasis komunitas.
Daftar Pustaka
Kusuma, A. H., & Anggraeni, A. D. (2021). Pemberdayaan Kader Kesehatan Masyarakat dalam Pengendalian Tuberkulosis. Jurnal EMPATI, 2(1), 65–70.
Kurniasari, D. W., et al. (2024). Sosialisasi TBC pada Masyarakat Pesantren sebagai Promosi Kesehatan. Community Development Journal, 5(6), 11072–11077.
Umam, M. K., & Irnawati, I. (2021). Gambaran Pengetahuan dan Sikap pada Pasien Tuberkulosis. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan, 1, 1023–1034.
